๐Ÿš—
๐Ÿš—
Otomotif4 min baca

5 Perbandingan Biaya Mobil Listrik vs Bensin yang Perlu Diketahui

Mobil listrik makin diminati di Indonesia. Tapi apakah benar-benar lebih hemat dari mobil bensin? Berikut perbandingan biaya sesungguhnya dari berbagai sisi.

Tim BerbagiTips.IDยท

Tren mobil listrik di Indonesia terus menguat di tahun 2026. Merek-merek seperti BYD, Wuling, Hyundai, dan Tesla semakin mudah ditemui di jalan raya, dan pemerintah pun terus mendorong adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif. Tapi pertanyaan yang paling sering muncul tetap sama: apakah mobil listrik benar-benar lebih hemat dari mobil bensin?

5 Perbandingan Biaya Mobil Listrik vs Bensin yang Perlu Diketahui

Jawabannya: tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Berikut 5 perbandingan biaya yang perlu Sobat Berbagi pertimbangkan sebelum memutuskan.

1. Harga Beli: Mobil Bensin Masih Lebih Murah di Depan

Ini adalah perbedaan paling terasa. Mobil listrik entry-level di Indonesia dimulai dari sekitar Rp200-250 juta (Wuling Air EV, BYD Seagull), sementara mobil bensin dengan ukuran sebanding bisa ditemukan mulai Rp150-200 juta (Toyota Calya, Daihatsu Sigra).

Untuk segmen menengah, perbedaannya lebih tajam lagi. SUV listrik seperti Hyundai Ioniq 5 dijual di kisaran Rp700 juta, sementara Honda CR-V bensin tersedia di Rp500-600 juta dengan spesifikasi yang bisa dibandingkan.

Kesimpulan: Mobil bensin lebih murah di awal. Tapi ini bukan cerita lengkapnya.

2. Biaya Energi: Keunggulan Besar Mobil Listrik

Di sinilah mobil listrik mulai membalikkan persamaan. Perbandingan biaya energi per 100 km:

  • Mobil bensin (konsumsi 12 km/liter, BBM Pertalite Rp10.000): sekitar Rp83.000/100 km
  • Mobil listrik (konsumsi 15 kWh/100 km, tarif listrik rumah Rp1.700/kWh): sekitar Rp25.500/100 km
Artinya biaya energi mobil listrik 3,2 kali lebih murah dibanding bensin. Untuk pengguna yang menempuh 1.500 km per bulan, ini berarti penghematan sekitar Rp860.000 per bulan, atau lebih dari Rp10 juta per tahun hanya dari biaya bahan bakar.

3. Biaya Perawatan: Mobil Listrik Jauh Lebih Minim

Mobil listrik memiliki komponen yang jauh lebih sedikit dibanding mobil bensin, sehingga biaya servis jauh lebih rendah
Mobil listrik memiliki komponen yang jauh lebih sedikit dibanding mobil bensin, sehingga biaya servis jauh lebih rendah

Mobil bensin memiliki ratusan komponen bergerak yang membutuhkan perawatan rutin:

  • Ganti oli setiap 5.000-10.000 km (Rp300.000-600.000/servis)
  • Filter oli, filter udara, busi, timing belt, kopling, dll
  • Servis transmisi, flush coolant, dan berbagai perawatan lainnya
Mobil listrik tidak memiliki oli mesin, busi, filter oli, timing belt, atau transmisi konvensional. Biaya servis utamanya hanya:
  • Rotasi ban
  • Cek dan ganti brake fluid
  • Pengecekan baterai
  • Update software
Estimasi biaya servis tahunan mobil bensin: Rp3-5 juta. Mobil listrik: Rp1-2 juta. Selisihnya cukup signifikan dalam jangka panjang.

4. Depresiasi: Belum Banyak Data untuk Mobil Listrik

Ini adalah area yang masih abu-abu. Mobil bensin memiliki data depresiasi yang sudah dapat diprediksi. Umumnya kehilangan 20-30% nilai di tahun pertama dan terus turun sekitar 10% per tahun.

Mobil listrik masih relatif baru di pasar Indonesia, sehingga data depresiasi masih terbatas. Ada dua faktor yang bisa mempercepat penurunan nilainya:

  • Teknologi baterai yang terus berkembang: model baru dengan baterai lebih efisien membuat model lama terasa ketinggalan
  • Kekhawatiran tentang kondisi baterai jangka panjang: masih banyak pembeli bekas yang was-was
Ini adalah risiko yang perlu Sobat Berbagi pertimbangkan jika berencana menjual kendaraan dalam 3-5 tahun.

5. Total Cost of Ownership (TCO): Siapa yang Lebih Hemat Jangka Panjang?

Jika dihitung secara menyeluruh dalam 5 tahun dengan asumsi pemakaian 1.500 km/bulan:

KomponenMobil BensinMobil Listrik
Harga beliRp250 jutaRp350 juta
Bahan bakar/energi (5 tahun)Rp75 jutaRp23 juta
Servis (5 tahun)Rp20 jutaRp8 juta
TotalRp345 jutaRp381 juta
Dari simulasi sederhana ini, mobil bensin masih sedikit lebih hemat secara total dalam 5 tahun. Tapi jika pemakaian lebih tinggi (di atas 2.000 km/bulan), mobil listrik mulai lebih unggul karena penghematan energi yang semakin besar.

Di atas 7-10 tahun pemakaian, dengan harga BBM yang cenderung naik dan tarif listrik yang lebih stabil, mobil listrik umumnya menjadi pilihan yang lebih ekonomis secara keseluruhan.

Mobil Listrik Untuk Siapa?

Mobil listrik paling masuk akal untuk Sobat Berbagi yang:

  • Berkendara jauh setiap hari (lebih dari 50 km), penghematan energi terasa nyata
  • Memiliki akses pengisian di rumah atau tempat kerja
  • Berencana mempertahankan kendaraan dalam jangka panjang (7+ tahun)
  • Tinggal di kota besar dengan infrastruktur SPKLU yang memadai
Sebaliknya, mobil bensin masih lebih praktis jika sering bepergian jarak jauh ke daerah yang belum memiliki banyak stasiun pengisian.
Bagikan:

Artikel Terkait