Langsung ke konten utama
🏥
🏥
Kesehatan6 min baca

7 Tips Mengatasi Sepatu agar Tidak Mudah Bau

Tips mengatasi sepatu agar tidak mudah bau melalui kebiasaan mengeringkan, mengganti kaus kaki, dan merawat kaki dengan tepat.

Miftahul Ulum·
7 Tips Mengatasi Sepatu agar Tidak Mudah Bau

Bau sepatu sering muncul bukan karena sepatu otomatis kotor, melainkan karena kelembapan bertahan terlalu lama di ruang yang tertutup. Keringat dari kaki, kaus kaki yang masih basah, dan sepatu yang dipakai berulang tanpa waktu kering menciptakan kondisi yang tidak nyaman. Menutupinya dengan pewangi biasanya hanya memberi hasil singkat; kebiasaan mengeringkan dan membersihkan sumber lembap lebih penting.

Rutinitas berikut tidak bertujuan menggantikan pemeriksaan tenaga kesehatan. Namun, untuk masalah sehari-hari, langkah kecil ini dapat membantu sepatu dan kaki terasa lebih segar. Jika ada gatal menetap, kulit pecah, kemerahan, nyeri, atau bau tidak membaik setelah perawatan dasar, pertimbangkan konsultasi dengan dokter kulit. Infeksi jamur dan kondisi kulit lain perlu ditangani sesuai penyebabnya.

1. Lepas sepatu dan kaus kaki sesegera mungkin setelah berkeringat

Sepatu yang dipakai setelah olahraga, perjalanan jauh, atau seharian berada di luar sering menyimpan kelembapan. Begitu sampai di rumah, buka tali atau bukaan sepatu, keluarkan insole bila memungkinkan, lalu letakkan di area berventilasi. Jangan langsung memasukkannya ke kotak rapat, lemari tertutup, atau tas olahraga.

Kaus kaki juga perlu segera diganti bila sudah lembap. Memakai kembali kaus kaki yang sama, meski tampak belum kotor, membuat kaki kembali berada di lingkungan basah. Kebiasaan sederhana ini membantu memutus siklus kelembapan dari kaki ke sepatu dan kembali lagi ke kaki pada hari berikutnya. Bila Sobat Berbagi sering membawa sepatu cadangan, sediakan juga kantong terpisah untuk pakaian atau kaus kaki basah agar tidak bercampur dengan barang kering.

2. Bergantian memakai sepatu agar setiap pasang sempat kering

Satu pasang sepatu yang dipakai dua hari berturut-turut mungkin belum benar-benar kering di bagian dalam, terutama saat cuaca lembap. Memiliki rotasi dua pasang untuk aktivitas rutin memberi setiap sepatu waktu bernapas. Tidak harus membeli banyak; dua pasang yang sesuai kebutuhan sering sudah jauh lebih efektif daripada satu pasang yang terus dipakai tanpa jeda.

American Academy of Dermatology menyarankan untuk tidak memakai sepatu yang sama dua hari berturut-turut bila kaki mudah berkeringat. Waktu jeda membantu bagian dalam sepatu mengering dan dapat mengurangi bau, iritasi, serta risiko masalah kulit akibat kondisi yang terlalu basah. Letakkan sepatu di tempat teduh dengan aliran udara, bukan di bawah matahari terik atau dekat sumber panas langsung yang berisiko merusak lem dan material.

3. Pilih kaus kaki yang membantu memindahkan kelembapan

Kaus kaki adalah lapisan pertama yang bersentuhan dengan kaki. Pilih pasangan yang bersih, pas, dan dirancang untuk menyerap atau memindahkan kelembapan. Pada kemasan, istilah seperti moisture wicking dapat membantu sebagai petunjuk, tetapi tetap perhatikan kenyamanan kulit dan aktivitas yang dilakukan. Untuk olahraga atau perjalanan panjang, bawalah cadangan sehingga kaus kaki bisa diganti saat sudah basah.

Kaus kaki yang terlalu tipis, longgar, atau tidak menyerap keringat dapat membuat kaki cepat lembap dan bergesekan. Jangan memakai kaus kaki yang masih setengah kering setelah dicuci. Cuci sesuai petunjuk bahan, lalu pastikan benar-benar kering sebelum disimpan. Dermatolog juga menyarankan kaus kaki dari bahan yang cepat kering atau mampu memindahkan kelembapan, serta menggantinya lebih sering ketika sudah basah.

4. Cuci dan keringkan kaki sampai sela jari

Merawat sepatu tanpa merawat kaki hanya menyelesaikan setengah masalah. Saat mandi, bersihkan kaki dengan sabun lembut dan air, lalu keringkan secara menyeluruh, termasuk sela-sela jari. Area tersebut mudah menahan air bila terburu-buru memakai kaus kaki. Gunakan handuk bersih khusus atau bagian handuk yang kering.

Kaki yang terus lembap dapat menjadi lingkungan yang nyaman bagi jamur. Panduan pencegahan athlete’s foot dari American Academy of Dermatology menekankan pentingnya menjaga kaki tetap kering, mencuci kaki setiap hari, dan mengeringkannya sepenuhnya. Bila kulit bersisik, pecah-pecah, gatal, atau terasa perih di sela jari, jangan menganggapnya sekadar masalah bau. Hindari berbagi handuk dan sepatu sambil mencari bantuan profesional bila gejala bertahan atau memburuk.

5. Bersihkan insole dan bagian dalam sesuai bahan sepatu

Insole menyerap banyak keringat. Jika insole dapat dilepas, keluarkan setelah dipakai agar kedua sisinya terkena udara. Bersihkan sesuai petunjuk produk: beberapa insole bisa dicuci ringan, sedangkan yang lain cukup dilap dengan kain lembap dan dikeringkan alami. Sepatu berbahan kulit, suede, kanvas, dan bahan sintetis punya cara perawatan berbeda, jadi cek label sebelum merendam atau memakai cairan pembersih.

Jangan menyemprot cairan apa pun secara berlebihan sampai bagian dalam sepatu basah kuyup. Tujuan pembersihan adalah mengurangi kotoran tanpa menambah kelembapan baru yang sulit keluar. Bila memakai bubuk penyerap lembap atau produk perawatan khusus, ikuti petunjuk kemasannya dan jangan menggunakannya pada kulit yang sedang iritasi. Produk penetral bau dapat menjadi pelengkap, tetapi tidak menggantikan proses pengeringan.

6. Simpan di rak terbuka dan beri jarak antar pasangan

Rak terbuka atau area penyimpanan yang tidak pengap memberi uap air kesempatan keluar. Susun sepatu dengan jarak kecil antar pasangan, terutama setelah digunakan. Hindari menumpuk sepatu basah di dalam kotak tertutup atau kantong plastik. Bila rumah cenderung lembap, periksa area dekat lantai dan dinding karena keduanya sering lebih mudah menahan udara basah.

Jika perlu menyimpan sepatu dalam kotak untuk waktu lama, lakukan hanya setelah sepatu bersih dan benar-benar kering. Tambahkan bahan penyerap kelembapan yang aman sesuai petunjuk, lalu tetap periksa secara berkala. Jangan memakai pengharum sangat tajam sebagai solusi utama; aroma kuat bisa menyamarkan masalah sehingga sepatu yang seharusnya dikeringkan justru terus disimpan dalam keadaan lembap.

7. Bedakan bau biasa dengan tanda masalah kulit

Bau setelah aktivitas berat bisa membaik lewat cuci kaki, kaus kaki bersih, rotasi sepatu, dan pengeringan yang konsisten. Tetapi ada situasi yang perlu perhatian lebih: gatal yang tidak reda, kulit mengelupas atau retak, lepuh, nyeri, bengkak, luka, atau bau menyengat yang tetap muncul meski kebersihan sudah dijaga. Orang dengan diabetes, gangguan sirkulasi, atau daya tahan tubuh yang terganggu sebaiknya lebih cepat meminta saran tenaga kesehatan bila ada masalah pada kaki.

Jangan berbagi sepatu, kaus kaki, atau handuk ketika ada dugaan infeksi kulit. Di ruang ganti, kamar mandi umum, kolam, atau gym, gunakan alas kaki agar tidak berjalan tanpa pelindung di lantai yang lembap. Kebiasaan ini bermanfaat bukan karena semua tempat pasti menularkan masalah kulit, melainkan untuk menurunkan paparan pada kondisi yang memang disukai jamur: hangat dan basah.

Sepatu yang tidak mudah bau dimulai dari rutinitas yang konsisten, bukan satu produk pengharum. Keringkan sepatu setelah dipakai, putar pemakaian, gunakan kaus kaki bersih yang sesuai aktivitas, dan jangan lewatkan sela jari saat mengeringkan kaki. Bila gejala kulit muncul atau tidak membaik, hentikan percobaan produk sembarangan dan pilih evaluasi medis yang tepat.

Bagikan:
MU
Ditulis olehMiftahul Ulum

Sarjana Teknik Elektro, konsultan IT di Jakarta

Terbit 9 Oktober 2026 · Sesuai pedoman editorial

Artikel Terkait