Langsung ke konten utama
๐Ÿฅ
๐Ÿฅ
Kesehatan7 min baca

7 Tips Mengatasi Jet Lag agar Badan Lebih Cepat Nyetel

Tips mengatasi jet lag ini membantu Sobat Berbagi menyesuaikan jam tidur, cahaya, makan, dan ritme aktivitas supaya tubuh tidak terlalu limbung setelah perjalanan lintas zona waktu.

Nurul Hikmah Karimยท
7 Tips Mengatasi Jet Lag agar Badan Lebih Cepat Nyetel

Jet lag sering dianggap efek samping biasa dari perjalanan jauh. Padahal, rasa lelah yang tidak sinkron, sulit fokus, mengantuk pada waktu yang salah, sampai perut terasa tidak nyaman bisa sangat mengganggu, terutama kalau kamu datang untuk agenda yang padat. Banyak orang baru sadar betapa mengurasnya jet lag ketika tubuh terasa bangun di satu zona waktu, sementara jadwal sudah menuntut ritme di zona waktu lain.

CDC Travelers' Health menjelaskan bahwa jet lag terjadi karena ritme harian tubuh tidak cocok dengan zona waktu baru, dan masalah ini umumnya muncul saat seseorang melintasi lebih dari tiga zona waktu. Sementara itu, CDC Yellow Book merinci strategi yang lebih praktis, mulai dari penggeseran jadwal tidur, pengaturan cahaya, hidrasi, sampai penggunaan melatonin yang waktunya harus tepat.

Kalau Sobat Berbagi ingin tubuh lebih cepat menyesuaikan diri setelah perjalanan jauh, tujuh tips mengatasi jet lag berikut bisa dijadikan fondasi.

1. Geser jam tidur beberapa hari sebelum berangkat

Salah satu kesalahan paling umum adalah membiarkan tubuh hidup normal sampai malam terakhir sebelum terbang, lalu berharap semuanya akan menyesuaikan sendiri setibanya di tujuan. Padahal, tubuh jauh lebih mudah beradaptasi kalau perubahan waktunya dicicil sedikit demi sedikit.

CDC menyarankan penyesuaian pola tidur mulai beberapa hari sebelum perjalanan. Kalau kamu terbang ke arah timur, cobalah tidur satu atau dua jam lebih awal dari biasanya. Kalau terbang ke arah barat, geser jam tidur sedikit lebih malam. Di CDC Yellow Book juga disebutkan bahwa menggeser tidur sekitar satu jam per hari selama dua atau tiga hari sebelum keberangkatan dapat membantu mengurangi waktu adaptasi di tujuan.

Strategi ini memang tidak selalu bisa dilakukan sempurna, apalagi kalau jadwal kerja sedang padat. Tetapi bahkan penyesuaian kecil sering lebih baik daripada tidak sama sekali.

2. Ubah patokanmu ke jam tujuan secepat mungkin

Begitu pesawat berangkat, banyak orang masih memikirkan jam di kota asal. Akibatnya, makan, tidur, dan kopi tetap mengikuti ritme lama, padahal tubuh sedang dibawa menuju pola baru. Semakin lama kamu bertahan pada jam asal, semakin lambat proses penyesuaian.

CDC Yellow Book menyarankan aktivitas selama perjalanan seperti makan, tidur, dan paparan cahaya mulai dipikirkan berdasarkan zona waktu tujuan. Langkah sederhananya adalah mengubah jam di ponsel atau jam tangan ke waktu kota tujuan begitu penerbangan dimulai atau setidaknya sebelum mendarat.

Cara ini membantu otak punya acuan baru. Kalau di tujuan nanti sudah malam, kamu akan lebih mudah menahan diri untuk tidak terlalu aktif. Kalau di tujuan masih siang, kamu juga lebih siap untuk bertahan terjaga.

3. Jaga hidrasi dan jangan jadikan alkohol sebagai alat bantu tidur

Kabinnya kering, durasi perjalanan panjang, dan pola makan berantakan. Semua ini membuat tubuh gampang terasa loyo. CDC menekankan pentingnya minum cukup air selama perjalanan karena dehidrasi dapat memperparah gejala fisik jet lag. Pada saat yang sama, mereka juga mengingatkan untuk menghindari alkohol berlebihan.

Masalahnya, alkohol sering terasa seperti jalan pintas untuk cepat tertidur. Padahal menurut penjelasan CDC Yellow Book, alkohol bisa membuat tidur lebih terpecah dan sekaligus memperburuk dehidrasi. Hasil akhirnya justru tubuh bangun lebih letih, bukan lebih segar.

Lebih aman siapkan air minum sendiri, minum berkala selama perjalanan, dan jangan menunggu sampai haus berat. Untuk makanan, porsi kecil biasanya lebih nyaman daripada makan terlalu banyak sekaligus, terutama kalau perutmu memang sensitif saat bepergian.

4. Pakai cahaya sebagai alat bantu utama, bukan cuma lampu kamar hotel

Tubuh membaca cahaya sebagai sinyal penting untuk menentukan kapan harus waspada dan kapan bersiap tidur. Karena itu, paparan cahaya yang tepat waktunya bisa sangat membantu menggeser jam biologis. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa lebih cepat pulih saat mereka aktif keluar ruangan pada waktu yang sesuai.

CDC Yellow Book menjelaskan bahwa paparan cahaya terang pada waktu tertentu bisa membantu sinkronisasi ritme sirkadian dengan zona waktu baru. Secara sederhana, cahaya pagi cenderung membantu tubuh bergeser lebih awal, sedangkan cahaya sore atau malam dapat mendorong pergeseran ke arah lebih lambat. Waktu idealnya memang bergantung pada arah perjalanan dan jumlah zona waktu yang dilintasi, tetapi prinsip dasarnya tetap bisa dipakai.

Kalau kamu baru tiba pagi atau siang dan memang perlu menyesuaikan ke ritme lokal, usahakan kena cahaya alami secukupnya. Sebaliknya, menjelang malam di tujuan, bantu tubuh bersiap tidur dengan cahaya yang lebih redup dan paparan layar yang tidak berlebihan.

5. Batasi tidur siang, dan kalau perlu tidur sebentar saja

Godaan terbesar setelah mendarat biasanya adalah langsung tidur lama. Masalahnya, tidur siang panjang sering membuat malam pertama di tujuan jadi kacau. Tubuh sudah lelah, tetapi dorongan tidur utamanya keburu habis pada sore hari sehingga malam terasa segar di saat yang salah.

CDC Travelers' Health menyebut tidur siang singkat sekitar 15 sampai 20 menit dapat membantu meredakan kantuk pada siang hari tanpa terlalu mengganggu tidur malam. CDC Yellow Book juga membedakan antara nap pendek yang membantu kewaspadaan dan tidur siang panjang yang bisa merusak adaptasi.

Kalau Sobat Berbagi benar-benar tidak kuat menahan kantuk, pasang alarm dan buat tidur singkat, bukan tidur bablas. Ini jauh lebih aman daripada niat rebahan sebentar lalu bangun saat jam lokal sudah malam.

6. Gunakan kafein secara strategis, bukan sepanjang hari

Kopi sering terasa seperti teman terbaik setelah penerbangan panjang. Memang, kafein bisa membantu menjaga kewaspadaan pada jam-jam yang berat. Namun kalau dipakai tanpa strategi, efeknya justru mempersulit tidur malam yang sangat kamu butuhkan untuk beradaptasi.

CDC Travelers' Health menyebut kafein dapat membantu tetap waspada pada siang hari, tetapi sebaiknya dihindari pada sore atau malam hari. CDC Yellow Book juga menjelaskan bahwa kafein sebaiknya tidak dikonsumsi menjelang jam tidur karena bisa mengganggu tidur berikutnya.

Artinya, gunakan kopi atau teh sebagai alat bantu untuk bertahan pada jam aktif lokal, bukan sebagai penopang sepanjang hari. Kalau tujuanmu tidur lebih cepat malam ini, hentikan konsumsi kafein lebih awal daripada kebiasaan normalmu.

7. Jangan sembarang pakai melatonin atau obat tidur

Melatonin sering disebut-sebut sebagai solusi cepat, tetapi kenyataannya waktunya sangat menentukan. CDC Yellow Book menjelaskan bahwa melatonin bisa membantu pergeseran ritme tubuh, namun jika dipakai pada waktu yang salah justru dapat menambah ketidakselarasan. Mereka juga mencatat bahwa dosis kecil seperti 0,5 sampai 1 mg sering sudah cukup untuk pergeseran sirkadian, dan dosis tinggi tidak otomatis lebih baik.

Yang perlu digarisbawahi, melatonin bukan permen. CDC juga mengingatkan kualitas produk bisa bervariasi karena tidak diatur seperti obat resep. Sementara itu, obat tidur dan stimulan punya pertimbangan efek samping serta interaksi masing-masing.

Kalau Sobat Berbagi punya kondisi kesehatan tertentu, sedang minum obat rutin, hamil, menyusui, atau pernah punya masalah tidur yang lebih kompleks, jauh lebih aman membicarakannya dengan dokter sebelum perjalanan. Untuk mayoritas orang, fondasi utama tetap ada pada tidur, cahaya, hidrasi, dan ritme aktivitas.

Penutup

Tips mengatasi jet lag yang paling efektif biasanya bukan satu trik besar, melainkan kombinasi keputusan kecil yang dilakukan pada waktu yang tepat. Geser jam tidur sebelum berangkat, hidup berdasarkan jam tujuan, minum cukup, pakai cahaya dengan cerdas, dan jangan menyerah pada tidur siang panjang di hari pertama.

Kalau perjalananmu terkait presentasi, rapat penting, ujian, atau acara keluarga besar, usahakan tiba setidaknya satu atau dua hari lebih awal bila memungkinkan. CDC juga menyinggung bahwa memberi tubuh waktu adaptasi sebelum agenda penting adalah langkah yang sangat masuk akal. Tubuh memang tidak bisa dipaksa langsung sinkron, tetapi kamu bisa membantunya menyesuaikan lebih cepat.

FAQ Tips Mengatasi Jet Lag

Kapan jet lag biasanya terasa paling berat?

Seringnya pada satu sampai dua hari pertama setelah mendarat, terutama jika kamu melintasi banyak zona waktu dan langsung masuk ke jadwal yang padat tanpa waktu adaptasi.

Apakah semua orang perlu minum melatonin?

Tidak. Banyak orang bisa membaik dengan pengaturan tidur, cahaya, dan hidrasi. Melatonin sebaiknya dipertimbangkan dengan hati-hati karena waktunya penting dan tidak cocok dipakai sembarangan.

Lebih baik tidur lama saat tiba atau memaksa tetap bangun?

Kalau tiba pada siang hari, biasanya lebih membantu menahan diri tetap bangun sampai malam lokal, atau hanya tidur singkat bila benar-benar perlu. Tidur panjang di sore hari sering membuat malam pertama makin berantakan.

Bagikan:
NHK
Ditulis olehNurul Hikmah Karim

Sarjana Kimia, pendekatan sains untuk nutrisi, parenting, dan skincare

Terbit 12 Agustus 2026 ยท Sesuai pedoman editorial

Artikel Terkait